Air Mata Rahasia 7 Tahun Silam

Air Mata Rahasia 7 Tahun Silam

7 tahun.

ya… sudah 7 tahun Saya berbisnis. Dan Saya bersyukur, banyak sekali skenario kehidupan yang Allah hadirkan untuk Saya saat mengarungi hidup ini.

Semuanya berawal dari keinginan Saya untuk mencoba Mandiri di tahun 2008. Pribadi yang pendiam, kaku, angkuh, dan susah beradaptasi, membuat Saya kesulitan dalam mencari teman. Bahkan, saat awal kuliah, Saya bisa menghitung berapa persisnya jumlah teman.

 

Bukan karena Saya tidak ingin berteman dengan mereka, tapi karena mereka menganggap bahwa Saya ‘terlalu berpikir jauh kedepan’.

Ini bermula sejak masa SMA. Ketika Saya sangat senang membaca buku motivasi dan pengembangan diri. Buku-buku karya Norman Vincent Peale, Dale Carnagie, David J. Schwarzt, Anthony Robbins, dan sejenisnya, sudah Saya lahap habis saat Saya masih sekolah.

Bukan karena Saya rajin, tapi karena Saya ingin menggapai Impian Saya di masa depan…

Dan pada semester 2 kuliah, disaat orang-orang asyik belajar dan fokus kuliah, Saya memutuskan untuk melamar pekerjaan di beberapa bimbingan belajar di kota Bandung.

Dan Saya kecewa. Karena terhitung ada 5 bimbingan belajar yang menolak Saya, hanya karena alasan: Saya tidak punya pengalaman dalam dunia mengajar. Hm… Menyedihkan. Betapa buruknya kemapuan Saya.

Untungnya, Saya tak putus asa. Pada lamaran ke-6, akhirnya Saya diterima. Bukan di bimbingan belajar yang besar, melainkan di sebuah lembaga kursus yang belum punya nama. Tak apa.. Saya terima. Dan akhirnya Saya bisa mendapatkan gaji pertama: Rp 350 ribu / bulan.

Sementara, Bisnis…. Tak terpikir sedikitpun dalam benak Saya untuk jadi pengusaha. Sayangnya, uang 350 ribu tidak cukup banyak untuk bisa menghidupi kebutuhan hidup dan kuliah Saya.

Akhirnya, Saya coba memberanikan diri untuk membuka usaha. Bisnis apa? Entahlah.. Saya pun bingung. Mungkin Saya akan mengawalinya dengan: jualan.

Sembari kuliah, Saya jualan. Dan ternyata benar. Ketika Saya mencoba untuk berjualan, teman-temen kuliah Saya semakin mencampakkan.

Jangankan laku, Saya malu… Ditolak melulu, dicibir, ditertawakan, dan seakan-akan Saya sudah tidak punya malu. Hufh… Hampir putus asa, sampai pada akhirnya Saya ingat kembali alasan kuat Saya kenapa melakukannya: “untuk bisa hidup”.

Gagal, gagal, gagal, gagal, gagal, gagal, gagal, gagal, gagal, dan gagal lagi.

Semua usaha dan bisnis yang kulakukan semuanya berujung pada kegagalan. Bahkan, Saya harus menerima kenyataan yang cukup mengagetkan, karena Saya tertipu, harus menanggung malu, dan menanggung kerugian hingga Milyaran Rupiah. Itu semua terjadi karena kesalahan Saya, tepatnya: kebodohan Saya, Anda tolong jangan coba-coba dan melakukan kesalahan.

air mata rahasia

Semakin Saya gagal, semakin Saya bersemangat untuk bangkit dari kegagalan tersebut. Lagi-lagi Saya kembali teringat dengan alasan kuat Saya kenapa melakukannya.

Kali ini berbeda: “untuk bisa tetap hidup”. Kenyataannya, Saya sudah menikah. Ada kewajiban besar di pundak Saya untuk bisa menghidupi, bukan hanya Saya, tapi juga keluarga Saya.

Sementara Saya bangkrut, Saya terpaksa putus kuliah di semester 7. Saya menangis…. T_T disaat (dulu) susah payah bisa masuk kuliah, akhirnya harus putus karena Saya harus menyelesaikan semua masalah yang menempa Saya.

Dan ternyata benar, teman-temen Saya makin mencibir Saya. Tak akan terlupakan, sampai sekarang -hingga detik ini-, ketika mereka berkata kepada satu sama lain dan itu terdengar oleh istri Saya, “Kasihan ya si Dewa. Udah bisnisnya gagal mulu, kuliahnya gak bener, nilainya jelek, keluar kuliah, eh sekarang nipu lagi….”.

Dan Saya sadar. Buku-buku yang Saya baca semasa SMA akan sangat berguna dalam situasi sulit seperti ini. Cacian, makian, cibiran, bahkan Fitnah, semuanya ditujukan pada Saya.

Disinilah waktu yang tepat untuk Saya mempraktikkan isi buku-buku tersebut: terus berjuang, jangan putus asa, yakin bisa, semangat! dan seterusnya…

Semakin Saya merenung, semakin Saya tersadar… Kenapa Allah memberikan skenario kehidupan ini begitu indah. Supaya kita tahu bahwa tiada kesuksesan dicapai dengan cara yang instan. Semuanya butuh perjuangan yang cukup melelahkan.

Air mata yang terus bercucuran. Keringat yang terus keluar. Dan tempaan hidup yang terus berdatangan. Semuanya, menguji kita bahwa: apakah kita melakukannya hanya untuk dunia yang tak selamanya hidup, atau untuk akhirat yang selamanya kita hidup disana. Kekal dan abadi…

Disaat titik nadirlah, kita akan tahu betapa MAHA KUASA-nya ALLAH.

Tiada satupun tempat bergantung selain kepada-Nya. Keyakinan kita pada-Nya akan menentukan nasib kita kedepan. Hilang keyakinan, hilang kehidupan…

Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk senantiasa berada di jalan-Nya. Aamiin…

Dan semoga Allah mencahayai hati kita dengan cahaya hidayah-Nya, sebagaimana DIA mencahayai bumi ini dengan cahaya matahari yang terang, selamanya…

Tidak perlu dishare, kecuali Bermanfaat

Dewa Eka Prayoga

founder www.billionairestore.co.id

Previous Bukan Sekedar Omong Kosong, Berapapun Target Penjualan Anda Akan Tercapai
Next Seorang Pengusaha Yang Hanya Mencari Uang

About author

Dewa Eka Prayoga
Dewa Eka Prayoga 132 posts

Dewa Selling, Penulis Buku-Buku Best Seller, Founder & CEO Billionaire Corp, dan juga merupakan Business Coach yang senang membantu para pengusaha di Indonesia dalam meningkatkan omzet bisnisnya hingga berkali-kali lipat. Ingin ngobrol langsung dengan Saya? Follow @DewaEkaPrayoga.

View all posts by this author →

You might also like

Artikel Pilihan

Penyebap Produk Anda Kurang Laris Dan Tidak Tembus Milyaran

Dalam sebuah seminar bisnis, Saya pernah bertanya dan meminta tanggapan kepada para peserta seminar mengenai salah satu bisnis Saya yang bergerak di bidang Clothing, “Jika seandainya Anda menjadi konsultan bisnis

Artikel Pilihan

Tidak Semua Pengusaha Mengetahui Tentang Pentingnya Hal Ini

Bagaimana Pertumbuhan Bisnis Anda sekarang? Salah satu kebiasaan Saya di malam atau pagi hari adalah membuka dropbox, mencari folder keuangan, dan membuka file laporan keuangan dalam folder tersebut. Ada 3

Bisnis

8 Tokoh Dunia Yang Putus Sekolah Dan Sukses

Bayangkan seorang anak kecil datang kepada Anda dan kemudian menarik-narik baju Anda serta berkata, “Pak… minta pak.. minta pak…”, “Bu… minta bu… minta bu….” Itulah fenomena yang sering kita temui