Magic of Close

Magic of Close

Mungkin ada yang tanya, “Kang, status Saya yang like banyak, yang komen banyak, yang share juga lumayan, tapi kok yang closing sedikit ya?”

Good Question! Pertanyaan seperti itu memang sering Saya jumpai sehari-hari. Alhasil, mereka mengeluhkan kondisi dimana sulit closing dan nggak ada uang masuk rekening. Hiks.. Hiks…. :sob:

Lantas, apa masalahnya?

Pertama, tidak semua orang yang engage (like, komen, dan share) status Anda akan benar-benar beli produk Anda. Camkan ini baik-baik. Makanya, jangan dulu bangga dan bahagia. Tugas Anda belum selesai…

Kedua, kalaupun orang mau beli produk Anda, terkadang mereka nggak harus engage (like, komen, dan share) terlebih dahulu. Logikanya, ngapain beli produk bilang-bilang? Langsung aja beli.

Ini terjadi khususnya untuk mereka para pria. Kalau beli sesuatu, jarang bilang-bilang. Berbeda cerita dengan wanita, yang sering ngomong kemana-mana setelah beli produk keren. Pertanyaannya, market Anda kebanyakan pria atau wanita? Cek ya

 

Ketiga, tidak semua copywriting yang kita gunakan, akan berujung langsung pada closing. Walaupun copywriting yang kita gunakan dalam bentuk soft selling, covert selling, story telling, atau apapun itu. Terkadang, orang akan tanya-tanya terlebih dahulu tentang detail produknya. Ini wajar, karena yang namanya jualan adalah aktivitas tanya-jawab. Justru keren banget kalau semua copywriting yang digunakan berujung closing tanpa ada penjelasan lanjutan dari kita. Salut!

Ingat, tidak semua orang akan langsung action begitu saja ketika membaca penawaran kita. Ada beberapa orang yang memang butuh diyakinkan. Sehingga, mereka akan cenderung komen di status Facebook, ngechat via message, invite pin BBM, atau SMS langsung. Intinya, mereka bertanya tentang beberapa hal yang memang ingin mereka ketahui…

Nah, soal teknik-teknik closing, kebetulan Saya sudah menulis secara lengkap di buku 30 Hari Jago Jualan. Anda bisa baca lengkapnya disana. Atau, kalau Anda ingin versi ebook GRATIS-nya, Anda bisa download di www.BelajarJagoJualan.com

EBOOK 17 TEKNIK CLOSING

Kunjungi pos untuk informasi selengkapnya.

Namun, agar pembaca status Facebook Anda semakin tertarik untuk membeli produk Anda, tentunya akan lebih baik jika Anda gunakan bahasa-bahasa yang memungkinkan mereka mengikuti apa yang Anda inginkan. Pola bahasa inilah yang disebut dengan pola bahasa sugestif.

Dalam buku #GaraGaraFacebook , Saya mengadopsi pola bahasa sugestif yang seringkali digunakan oleh Milton Erickson. Jika sebelumnya Anda sudah pernah bergelut di dunia NLP, tentunya Anda pernah tahu bahwa pola bahasa sugestif yang Saya maksud dinamakan dengan: Hypnotic Language Pattern.

Tapi, bukan itu yang akan Saya bahas. Nanti kalau soal itu, Anda bisa cek di bukunya langsung, supaya lebih paham.

Saya akan langsung ke bahasan bagaimana cara memfollow up calon pembeli

By the way, teknik closing dan teknik follow up adalah dua hal yang berbeda lho ya…. Serupa, tapi tak sama…

“80% Pembelian membutuhkan 5 kali follow up, tapi 44% pebisnis online berhenti saat penawaran pertama…” (Hubspot)

Artinya, ada 44% penjual yang akan mengalami kegagalan dalam 80% penjualan yang mereka lakukan. Bayangkan, sebanyak itu. Apakah Anda ingin membiarkannya hilang begitu saja? Tentu tidak, bukan?

Oleh karena itu, diperlukan skill follow up agar mereka benar-benar beli dan transfer uangnya ke kita. Caranya?

Pertama, Ajukan Pertanyaan Pilihan.

Prinsipnya, cara ini sama persis seperti yang sudah Saya jelaskan di bab sebelumnya, Online Salesman, yaitu tentang double binding dan asumsi “use of or”.

Ya, banyak orang gagal memfollow up, karena mereka salah bertanya, misalkan:

“Mba, jadi beli kerudungnya enggak?”. Jawab: enggak.
“Mas, jadi beli kaosnya enggak?”. Jawab: enggak.

 

Itupun mending kalau dijawab, kebanyakan malah nggak dibalas sama sekali. Pernah ngalamin? hehe

Karenanya, sebisa mungkin, Anda perlu mengajukan pertanyaan pilihan yang jawabannya pasti “YA”. Misalkan:

“Mba, orderan kemarin, mau dikirim pake JNE atau TIKI?”
“Mas, orderan kemarin, mau dikirim hari ini atau besok?”
“Bu, orderan kemarin, mau ditransfer ke BCA atau Mandiri?”

Pola ini memiliki rumus:
“Mas/Mba, orderan yang kemarin, mau [sugesti] (x) atau (y)?”

Kebayang? Intinya, pertanyaan kita setel agar calon pembeli menjawab salah satu pilihan yang kita ajukan

Jadi, jangan pernah nanya gini lagi ke calon pembeli, “Mba/Mas, jadi beli enggak?”. Blunder…

Itu yang pertama. Anda bisa kreasikan sesuai kebutuhan dan keinginan Anda.

Kedua, Asumsikan Pasti Beli.

Ini yang sering terjadi pada para penjual online. Mereka mengasumsikan calon pembelinysa tidak jadi beli. Maksudnya?

Ya itu tadi. Asumsinya dinyatakan secara terang-terangan, persis seperti kasus sebelumnya: “Mba, jadi beli kerudungnya enggak?”, “Mas, jadi beli kaosnya enggak?”.

Ya jelas, pertanyaan tersebut diasumsikan bahwa si calon pembeli, boleh beli, boleh tidak.

Terus, gimana caranya?

Ya gunakan asumsi-asumsi terselubung yang mengasumsikan mereka pasti beli. Contohnya?

“Oh ya Mba, sebelum transfer, masih ada yang ingin ditanyakan mengenai produknya?”. <—- Asumsinya, dia bakalan transfer.

“Oh ya Mas, kira-kira mas rencana mau transfer kapan ya?”. <—- Asumsinya, dia bakalan transfer. Cuma, kapan?

Follow Up mengasumsikan tidak transfer —> “Mas, jadi transfer enggak?”. <— diasumsikan boleh: enggak

“Oh ya Mas, karena kemarin mas sudah tertarik ikut pelatihannya, Saya penasaran, kira-kira mas mau selesaikan pembayarannya siang ini atau sore?”. <—- Asumsinya, dia bakalan bayar. Cuma, mau bayar siang atau sore? Sama seperti cara pertama.

 

“Oh ya Mas, karena sebelumnya mas udah tertarik ikut pelatihannya, sebelum transfer, Saya kepingin tahu, apakah mas udah tahu seberapa besar manfaat yang mas dapatkan setelah join di pelatihan ini?. <— Asumsinya ditumpuk-tumpuk. Silakan analisa sendiri. Atau nanti kita bahas di grup Telegram. hehe

Nah, itu cara kedua. Intinya, jangan pernah asumsikan si calon pembeli gak jadi beli. Asumsikanlah mereka benar2 beli. Paham?

Saya kasih contoh asumsi2 lagi ya…

 

“Mba, karena ini merupakan pembelian yang pertama kali, maka kami berikan pada mba bonus spesial berupa….” <— Asumsinya: bakalan ada pembelian berikutnya, karena ini pertama kali

Contoh pas buat status, “Siapa lagi yang ingin tahu bagaimana cara mendapatkan passive income 10 juta setiap bulan dari bisnis tour & travel?” <— Asumsinya: sebelumnya udah ada yang pernah dapat passive income 10 juta setiap bulan. Karena ada kata “Siapa lagi?”

 

Contoh pas buat status, “Kapan lagi Anda bisa miliki buku #GaraGaraFacebook dengan harga super murah selain hari ini?” <— Asumsinya: kalau gak hari ini, gak ada lagi waktu yang tepat. Karena ada kata “Kapan lagi?”

Ah, masih banyak contohnya….

Lanjut ke cara ketiga…

Ketiga, Tanyakan Alasan Beli

Cara ini masih memanfaatkan asumsi pasti beli. Karena ketika kita tanya kenapa mereka mau beli di kita, maka mereka cenderung menjawab, “karena…. bla bla bla”.

Saat mereka mengungkapkan alasannya, artinya mereka sudah benar-benar setuju untuk beli produk kita. Paham?

Jadi, kenapa Anda mau beli buku-buku Saya yang lainnya selain buku #GaraGaraFacebook? hehe… contoh..

Orang akan cenderung jawab: karena.. soalnya… karena pertanyaannya udah kita setir

Jadi, pas follow up calon pembeli, bisa bilang, “Mba, aku penasaran, kalau boleh tahu, mba kenapa ya kemarin beli jilbab ini?” atau “Mba, aku kepengen tahu, mba kenapa ya kemarin beli jilbabnya dari Saya, bukan reseller lain?” <— ketika jawab: “Soalnya…”, “Karena…”. berarti ia setuju bahwa beli produk Anda dan dari Anda

Kebayang?

Keempat, Tunjukkan Testimoni

Dengan Anda memberikan testimoni, entah itu screen shoot gambar atau cerita dari pembeli produk Anda sebelumnya, akan membuat calon pembeli semakin yakin dengan produk Anda.

Terkadang, mereka menunda beli atau transfer, bukan karena apa-apa, melainkan kurang yakin dan banyak pertimbangan. Tapi ketika Anda tunjukkan testmoni-tesmimoninya, pastinya mereka akan semakin yakin untuk beli produk Anda..

Cara keempat, paling banyak digunakan oleh kawan-kawan onlineshop. Andalannya cuma satu: testimoni. hehe

Kelima, Tawarkan Bantuan.

Ini adalah cara yang paling sering Saya gunakan khususnya saat memfollow up calon pembeli lewat email. Alhasil, gara-gara cara ini, konversi penjualan Saya dari order ke transfer melesat hingga 65%. Padahal setahu saya, yang lain gak nyampe 40%

 

Nah, itu 5 cara kalau kita pengen follow up calon pembeli yang berasal dari FB. Ada 7 cara sebenarnya, tapi nanti pasti Anda ketahui sisanya pas baca bukunya. Okey? ^_^

 

Dewa Eka Prayoga

Founder www.billionairestore.co.id

Previous Fokus Pengusaha Adalah
Next Awas! Jangan Sampai Pelangganmu Kesal, karna Penawaran Yang berulang ulang

About author

Dewa Eka Prayoga
Dewa Eka Prayoga 132 posts

Dewa Selling, Penulis Buku-Buku Best Seller, Founder & CEO Billionaire Corp, dan juga merupakan Business Coach yang senang membantu para pengusaha di Indonesia dalam meningkatkan omzet bisnisnya hingga berkali-kali lipat. Ingin ngobrol langsung dengan Saya? Follow @DewaEkaPrayoga.

View all posts by this author →

You might also like

Bisnis

Bagaimana Cara Kaya Mendadak ?

Jika Anda ingin tahu bagaimana cara kaya mendadak, maka jawabannya adalah: MUSTAHIL! Ya, hal tersebut mustahil terjadi jika Anda masih sering bermental miskin dan mengemis-ngemis nggak punya uang kepada orang

Copywriting

Cara Mudah Meningkatkan Persepsi Nilai Produk Dengan Kata-Kata

Marketing adalah permainan persepsi. Bagaimana sebuah produk dapat “dipersepsikan” bagus di mata market. Ada produk yang sebenarnya bagus, tapi ketika kita tidak mampu mengkomunikasikannya dengan baik, sehingga persepsi market terhadap

Bisnis

Tak Cukup Hanya Dengan Strategi Dan Teknis!

Akhir-akhir ini Saya amati bahwa alasan orang-orang menghadiri sebuah Seminar bisnis adalah ingin mendapatkan ilmu ‘daging’, alias ilmu yang sifatnya strategi dan teknis yang bisa dipraktikkan, bukan cuma motivasi dan